19 Okt 2012

senyuman manismu

semilir dingin selimuti kalbu, 
bekukan asa yang tertanam dalam diri, 
namun hangat diam-diam tersebar. 
ketika kupandang wajahmu

aku selalu terpaku diam membisu tatkala kupandang wajahmu,
manis parasmu berbingkai senyuman dan gemintang rembulan, 
tambah elok parasmu kupandang

sepasang emprit berkasihan di pohon randu, 
terbersit iri dalam hatiku, 
bisakah kumiliki dirimu, 
atau hanya sebatas impian palsu

ijinkan aku tertawa, 
pada merpati yang terbang berdua, 
mencaci hati yang hanya mendamba, 
namun tiada sanggup kukata

hadirmu laksana kabut pagi, 
datang bersama hembusan dingin angin, dan hilang bersama mentari, 
tapi dirimu selalu menyimpan rindu

tiada aku sebut namamu dalam lisan atu tulisan,
tapi namamu telah tertanam dalam diinding sanubari terdalam,

kini mentari telah terbit sinari hari
hangatkan dedaunan dingin berselimut embun
hidupkan sungai-sungai dalam kecerahan hari

malm telah tinggalkan hati
bersama kenangan pada gemintang dan rembulan
belum sempat ku artikan indahnya malam
fajar telah menjelang
bersama manis senyumanmu

kuisyaratkan rasaku tanpa tanda
kumatikan indraku
dan kurasakan dirimu dengan hatiku
hangat tediam dalam sukma

aku tediam dalam kesadaran
pada rasa yang tiada perlu kucari
entah pada siapa kan kuberi

rasaku telah bertanda dalam salam sahaja
berlampau pada hati bisu terdiam
terlalu bersyaratkah cintamu
hingga alam terdiam dalam keheningan

ketika jiwa meruang dalam kalbu, 
sperti mentari membentuk fajar, 
saat dirimu terbayang dalam hati, 
maka aku hanya bisa terdiam dan memandang dirimu

6 komentar: