kelam gelap membentang
tanpa tau kemana memandang maupun meraba
tertatih jatuh terluka
tersayat diam membekap luka
tiada secercah cahaya menyambut
hanya semilir dingin angin bekukan jiwa
meraba terus melangkah
tanpa tau dimana kau berada
detik pelan berlalu
hari perlahan berganti
namun belum jua kutemukan dimana dikau kini
musim silih berganti
gugur daun berganti tunas merekah
kuncup melati hiasi taman depan rumah
namun dikau masih jua belum kembali
sepi kadang membekap sukma
merajam raga dengan sejuta belati rindu
terbayang seraut wajah dirimu
tersenyum menyambut pagi
dalam kelam dan dalam terang
kau hanya bisa terdiam
melepaskan aku dalam kegamangan
menggambarkan siluet wajahmu dalam kerinduan
18 Apr 2013
16 Apr 2013
Tentang Nisan Bertulis Namaku
diam dingin membekab
terdiam raga mengejang
hening sukma menghilang
terbujur kaku dalam kebisuan
sayup terdengar rapalan doa
memuja atas nama tuhan
tentang sukma yang perlahan melayang
lama waktu berlalu
hanya sepi dan kelam menemani diriku
perlahan semakin sepi
entah apa yang telah terjadi
terpaku diam membisu
perlahan namun pasti
tertelan aku dalam kesendirian
belum sempat aku bertanya, kenapa
nisan telah berdiri menancap di atas kubur
atas namaku sendiri
terdiam raga mengejang
hening sukma menghilang
terbujur kaku dalam kebisuan
sayup terdengar rapalan doa
memuja atas nama tuhan
tentang sukma yang perlahan melayang
lama waktu berlalu
hanya sepi dan kelam menemani diriku
perlahan semakin sepi
entah apa yang telah terjadi
terpaku diam membisu
perlahan namun pasti
tertelan aku dalam kesendirian
belum sempat aku bertanya, kenapa
nisan telah berdiri menancap di atas kubur
atas namaku sendiri
13 Apr 2013
hilangnya melati dalam malam
malam tenggelam dalam kelam
rembulan hilang di balik mega
kartika hilang perlahan entah kemana
detik berganti pecahkan sunyi
disni kita berdua diam
termangu dalam derai air mata
kau hanya terbaring diam
samar kau lihatkan senyummu padaku
namun air mata masih jua mengalir dari matamu
aku hanya tertawa kecl melihatmu
kaupun berusaha tersenyum dengan usahamu
kugenggam tanganmu begitu dingin kurasa
kutatap wajahmu kau terklihat begitu lesu
lama kau terbaring diam
bersama puluhan selang-selang menopang hidupmu
lesu sendu dan pilu tersirat di matamu
kau seperti kuncup bunga yang perlahan layu
hanya sisakan kengan kecantikan dan kaindahan waktu itu
aku hanya diam
kau pun hanya diam bersama senyumanmu itu
kita hanya bicara lewat aksara air mata
entah berapa lama waktu telah berlalu
sisakan kita berdua disini
kian lama waktu berlalu
perlahan kurasakan ragamu tertelan dalam beku
berkelebat sejuta kenangan dalam benakku
sejuta tawa dan candamu
sejuta hangat derai tawamu
peluk rindu dan kecupanmu
manis pahit kopi buatanmu
yang menyambutku setiap pagi menjelang
bersama sapaan dan senyuman manismu
lama tiada kurasa, saat itu perlahan menghilang dalam hidupku
terganti menjadi sebatas kenangan belaka
perlahan air mataku kembali mengalir
menetes jatuh basahi tangamu
tiada sanggup kusapu derai air mata yang lama tertahan ini
kulihat bibirmu seakan berkata
lirih pelan tanpa aksara
namun aku masih bisa mengerti apa yang kau katakan
"untuk apa kau menangis kasihku
jangan kau berikan padaku tangisanmu
biarlah kulihat senyummu
senyuman yang hangat dan membuatku jatuh hati padamu
senyuman sehangat surya, namun seindah rembulan malam
kau kuat, tak pantas kau menangis di depanku
tiada pernah ku lihat kau menangis
lantas kenapa kau harus menangis kini
senyumlah kasihku, tersenyumlah
dan iringkan aku dalam senyuman manismu malam ini"
layu bibirmu tertutup
perlahan matamu terkatup,
dingin merambat hebat dalam ragamu
sesaat aku diam termangu
kuturankan tanganmu perlahan
semburat senyum terukir dalam bibirmu
aku hanya tersenyum menatapmu
teriring airmata yng tiada terhenti
perlahan ku kecup keningmu
dingin bibirku menyentuh keningmu
sembari ku usap air matamu
ku cium pipimu
dan kubusikan kata indah yang mengiring setiap tidurmu
"selamat tidur bidadariku, tenanglah dalam tidrmu,
mimpukan diriku dalam tidurmu kasihku"
rembulan hilang di balik mega
kartika hilang perlahan entah kemana
detik berganti pecahkan sunyi
disni kita berdua diam
termangu dalam derai air mata
kau hanya terbaring diam
samar kau lihatkan senyummu padaku
namun air mata masih jua mengalir dari matamu
aku hanya tertawa kecl melihatmu
kaupun berusaha tersenyum dengan usahamu
kugenggam tanganmu begitu dingin kurasa
kutatap wajahmu kau terklihat begitu lesu
lama kau terbaring diam
bersama puluhan selang-selang menopang hidupmu
lesu sendu dan pilu tersirat di matamu
kau seperti kuncup bunga yang perlahan layu
hanya sisakan kengan kecantikan dan kaindahan waktu itu
aku hanya diam
kau pun hanya diam bersama senyumanmu itu
kita hanya bicara lewat aksara air mata
entah berapa lama waktu telah berlalu
sisakan kita berdua disini
kian lama waktu berlalu
perlahan kurasakan ragamu tertelan dalam beku
berkelebat sejuta kenangan dalam benakku
sejuta tawa dan candamu
sejuta hangat derai tawamu
peluk rindu dan kecupanmu
manis pahit kopi buatanmu
yang menyambutku setiap pagi menjelang
bersama sapaan dan senyuman manismu
lama tiada kurasa, saat itu perlahan menghilang dalam hidupku
terganti menjadi sebatas kenangan belaka
perlahan air mataku kembali mengalir
menetes jatuh basahi tangamu
tiada sanggup kusapu derai air mata yang lama tertahan ini
kulihat bibirmu seakan berkata
lirih pelan tanpa aksara
namun aku masih bisa mengerti apa yang kau katakan
"untuk apa kau menangis kasihku
jangan kau berikan padaku tangisanmu
biarlah kulihat senyummu
senyuman yang hangat dan membuatku jatuh hati padamu
senyuman sehangat surya, namun seindah rembulan malam
kau kuat, tak pantas kau menangis di depanku
tiada pernah ku lihat kau menangis
lantas kenapa kau harus menangis kini
senyumlah kasihku, tersenyumlah
dan iringkan aku dalam senyuman manismu malam ini"
layu bibirmu tertutup
perlahan matamu terkatup,
dingin merambat hebat dalam ragamu
sesaat aku diam termangu
kuturankan tanganmu perlahan
semburat senyum terukir dalam bibirmu
aku hanya tersenyum menatapmu
teriring airmata yng tiada terhenti
perlahan ku kecup keningmu
dingin bibirku menyentuh keningmu
sembari ku usap air matamu
ku cium pipimu
dan kubusikan kata indah yang mengiring setiap tidurmu
"selamat tidur bidadariku, tenanglah dalam tidrmu,
mimpukan diriku dalam tidurmu kasihku"
10 Apr 2013
sepenggal kabar tentang ajal
detik berlalu dalam bisu
malam luntur dalam pilu
fajar menyapa dalam luka
senja berkabar tentang duka
surya tenggelam dalam lara
mati menjemput tanpa tunda
malam luntur dalam pilu
fajar menyapa dalam luka
senja berkabar tentang duka
surya tenggelam dalam lara
mati menjemput tanpa tunda
9 Apr 2013
Tentang Rindu dan Pilu
saat rindu tersekat
rasa hati kian sekarat
kau hanya bisa meratap pada dinding malam yang keparat
dalam diam kau menunggu
detik jam pun kian berlalu
perlahan rindumu kian membeku
terhitung daun gugur berlalu
diam menunggu dirimu di depan pintu
berdiri aku bersama serangkai bunga yang layu
angin berkejaran di balik gugur dedaunan
sedang hujan hanya sembunyi di balik awan
lama nian kau menghilang lenyap dalam bayang
malam kian pekat
rindu perlahan mengikat
memandang pilu pada musim yang terlewat
tanpa ada dirimu meskipun hanya sebatas bayang belaka
bersandar pada dinding fajar
menunggu terdiam pada tepian senja
sedang dalam malam aku hanya bisa meratap
tentang pilu dan duka yang tak kunjung menghilang
ada kala hujan begitu indah
ada kala kemarau begitu segar
kering hati terserap panas rindu
sedang tangis luntur dalam tetes hujan yang bisu
rindu hampa
rindu duka
rindu suka
rindu tangis
rindu tawa
bergumul bersatu dalam sejuta jiwa
melayang jauh dalam angkasa
berkabar pada rembulan dan kartika
tentang dirinya yang hilang ditelan fajar biru
hilang lenyap tak bersua
diam duduk sendiri menangis pilu
untuk apa sesal semayam dalam dada
jika sakit tak sanggup tertahan
lepas dan tinggal kan dia berlalu
tikam belati dalam jantungku
meleleh tercecer jutaan rindu
hilang tersapu dalam hujan pilu
aku pergi bukan karna tak menunggu
jika kau kembali tak kau dapati diriku
mungkin aku hilang mati untuk menantimu.
rasa hati kian sekarat
kau hanya bisa meratap pada dinding malam yang keparat
dalam diam kau menunggu
detik jam pun kian berlalu
perlahan rindumu kian membeku
terhitung daun gugur berlalu
diam menunggu dirimu di depan pintu
berdiri aku bersama serangkai bunga yang layu
angin berkejaran di balik gugur dedaunan
sedang hujan hanya sembunyi di balik awan
lama nian kau menghilang lenyap dalam bayang
malam kian pekat
rindu perlahan mengikat
memandang pilu pada musim yang terlewat
tanpa ada dirimu meskipun hanya sebatas bayang belaka
bersandar pada dinding fajar
menunggu terdiam pada tepian senja
sedang dalam malam aku hanya bisa meratap
tentang pilu dan duka yang tak kunjung menghilang
ada kala hujan begitu indah
ada kala kemarau begitu segar
kering hati terserap panas rindu
sedang tangis luntur dalam tetes hujan yang bisu
rindu hampa
rindu duka
rindu suka
rindu tangis
rindu tawa
bergumul bersatu dalam sejuta jiwa
melayang jauh dalam angkasa
berkabar pada rembulan dan kartika
tentang dirinya yang hilang ditelan fajar biru
hilang lenyap tak bersua
diam duduk sendiri menangis pilu
untuk apa sesal semayam dalam dada
jika sakit tak sanggup tertahan
lepas dan tinggal kan dia berlalu
tikam belati dalam jantungku
meleleh tercecer jutaan rindu
hilang tersapu dalam hujan pilu
aku pergi bukan karna tak menunggu
jika kau kembali tak kau dapati diriku
mungkin aku hilang mati untuk menantimu.
Langganan:
Postingan (Atom)