luka lari kau bawa pergi
hilang lenyap dalam sepi
diam memendam menungu mati
tangis perih kau pendam
sedang senyuman kau hidangkan
langit mendung berkabar hujan yng tertunda
semilir angin menyelipkan sejuta wangi kenanga
teringat wajah tersirat dalam semburat hitam di mega
kau tertawa namun berbuah duka
tiada lagi kurasa namaku di hatimu
tiada kutemui hangat sapaan senyummu kala malam menghampiri
kau hilang tertelan sepi
bersama lolong serigala malam yang menyayat hati
detik jam berbisik
rentetan kata-kata menyerangku tanpa jeda
berjuta kenangan menggelayut manja
menempel lekat dalam dinding jiwa
enggan aku menatap barang sekejap
namun dia memaksa dan terus memaksa
bersemayam ia disana,menggantung di pelupuk mata
ada mu kina tiada berasa
kau samar di balik kabut-kabut bukit kepedihan
samar kau tersenyum, samar pula kau menghilang
enggan aku bertukar sapa
karena pedih masih bertahta dalam jiwa
tiada lagi aku peduli dimana kau berada
kau menghilang aku lenyap
sama-sama kita mengengam sebuah kenangan
tentang tawa dan tentang tangis
tenang janji dan tentang cinta
serta tentang luka yang menganga di dada
21 Mar 2013
15 Mar 2013
Kerinduan
tangis terdiam
jerit terbungkam
rindu menusuk
pedih teriris
luka menganga
sukma membisu
raga terdiam
jarak menghadang
hati membeku
rindu membuncah
waktu membunuh
hari terbakar
surya mati
rembulan menangis
malam meradang
rindu tertelan..
rindu membuncah
rindu tertelan
rindu terhadang waktu
rindu terpukul jarak
rindu dan hanya sebatas rindu
masih bertahta dan tersisa dalam hatiku
jerit terbungkam
rindu menusuk
pedih teriris
luka menganga
sukma membisu
raga terdiam
jarak menghadang
hati membeku
rindu membuncah
waktu membunuh
hari terbakar
surya mati
rembulan menangis
malam meradang
rindu tertelan..
rindu membuncah
rindu tertelan
rindu terhadang waktu
rindu terpukul jarak
rindu dan hanya sebatas rindu
masih bertahta dan tersisa dalam hatiku
13 Mar 2013
IBU..
air mata telah jatuh
leleh lebur dalam tangis
sejuta rindu menghentak dalam jiwa
seraut wajah tergambar dalam bayangan malam
seraut wajah penuh guratan waktu
terukir penuh tangis dan peluh
berliku penuh kenangan
sepasang tangan hangat memeluk sukma
hangat penuh rindu dan penuh duka
sepsang tangan bukti kerasnya dunia
lirih lembut sapaan wanita
serak berat seakan hendak menghujam surga
lebut tenang laksana lautan padamkan gejolak neraka
seribu rindu menumpuk dalam sukma
sejuta cinta menghujam dalam dada
mengalir tenang dalam liku sungai kasih sayang
kau berikan sejuta mentari dalam kasih sayang
kau limpahkan keindahan rembulan dalam senyuman
deras hujan terdiam dalam derai tawamu
aku terdiam dalam pelukanmu
menangis tersedu menatapmu
diam membisu kala kau kecup keningku
lama waktu kian beraganti
menggores sejuta luka dan duka
memebekas jelas dalam sukmamu
aku sadar dalam diamku
kau menngis dalam senyummu
kau rapal namaku dalam mantra doa
aku hanya bisa diam menangis
setiap kusebut namamu
setiap ku ingat wajamu
aku menangis
bahkan kini aku menangis
air mataku perlahan basahi pipi
saat kata-kata ini aku rangkai
saat wajahmu aku ukir dalam setiap bait
tak sanggup lagi kuteruskan kata ini
tiada kata tersisa yang bisa kutuliskan
hanya rindu yang tersisa dalam hatiku
berserta sejuta maaf untukmu
IBU..
untuk ibuku tersayang, yang selalu merindukan dan mendoakan anaknya, yang selalu tertawa dan tersenyum, meski sejuta luka kuberikan, yang selalu memberikan maaf, meski kesalahan selalu ku perbuat. ini rindu dan maaf untukmu IBU..
leleh lebur dalam tangis
sejuta rindu menghentak dalam jiwa
seraut wajah tergambar dalam bayangan malam
seraut wajah penuh guratan waktu
terukir penuh tangis dan peluh
berliku penuh kenangan
sepasang tangan hangat memeluk sukma
hangat penuh rindu dan penuh duka
sepsang tangan bukti kerasnya dunia
lirih lembut sapaan wanita
serak berat seakan hendak menghujam surga
lebut tenang laksana lautan padamkan gejolak neraka
seribu rindu menumpuk dalam sukma
sejuta cinta menghujam dalam dada
mengalir tenang dalam liku sungai kasih sayang
kau berikan sejuta mentari dalam kasih sayang
kau limpahkan keindahan rembulan dalam senyuman
deras hujan terdiam dalam derai tawamu
aku terdiam dalam pelukanmu
menangis tersedu menatapmu
diam membisu kala kau kecup keningku
lama waktu kian beraganti
menggores sejuta luka dan duka
memebekas jelas dalam sukmamu
aku sadar dalam diamku
kau menngis dalam senyummu
kau rapal namaku dalam mantra doa
aku hanya bisa diam menangis
setiap kusebut namamu
setiap ku ingat wajamu
aku menangis
bahkan kini aku menangis
air mataku perlahan basahi pipi
saat kata-kata ini aku rangkai
saat wajahmu aku ukir dalam setiap bait
tak sanggup lagi kuteruskan kata ini
tiada kata tersisa yang bisa kutuliskan
hanya rindu yang tersisa dalam hatiku
berserta sejuta maaf untukmu
IBU..
untuk ibuku tersayang, yang selalu merindukan dan mendoakan anaknya, yang selalu tertawa dan tersenyum, meski sejuta luka kuberikan, yang selalu memberikan maaf, meski kesalahan selalu ku perbuat. ini rindu dan maaf untukmu IBU..
5 Mar 2013
Kebebasan : Nyata atau Ilusi ?
tulisan ini aku mulai tepat pukul 01:07 WIB, jam segini saya masih terjaga. masih pula ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok. saya tak tau harus darimana memulai tu;isan untuk malam ini, karena jujur saja sebenarnya tulisan yang saya tulis ini tak memiliki awalan yang pasti. senua yang akan saya tulis kali ini adalah sebuah penggambaran dari kejenuhan dan apa yang saya pikirkan. jangan salahkan juga jika memang ada typo dalam tulisan malam ini, karena saya masih manusia yang masih bisa salah (alasan klise). sebenrnya sih, mata mulai terasa berat dan mengantuk, tapi terlalu sayang untuk saya lewatkan begitu aja pikiran ini. sebelum tulisan ini saya lanjutkan dan kalian baca lebih lanjut, sebelumnya saya mohon maaf apabila ada yang tersinggung. saya g mengharuskan kalian membaca sampai selesai. kalo kalian sudah merasa tersisinggung bisa kok dihentikan bacanya.
18 Feb 2013
Malam sejuta Rindu
Mega malam
kembali terlilit sepi
Rembulan
kembali sembunyi dalam riak-riak awan mendung
Sedang
gemintang manja mengintip dari balik tirai-tirai mega
Kenanga
kembali mekar tanpa berkata
Melati
kembali sebarkan aroma kerinduan yang tertunda
Gangsir dan
jangkrik bernyanyi lirih tentang sedihnya merindu
Malam
kembali tertelan dalam sepi
Namun
sejenak ia pancarkan sejuta indah kerinduan
Sebuah
kerinduan yang tersembunyi menyusup dibalik sukma
Menanati
dengan sejuta caya para kunang-kunang
Caya
rembulan redup tertelan seribu kunang
Gemintang
iri dan menghilang
Beriringan
sejuta bidadari tebarkan kelopak mawar
Lantunkan
sejuta tembang rindu iringi malam yang kian menepi
Semilir
angin hembuskan sejuta kabar dan sejuta bisik doa
Dari sukma-sukma
yang sakit karna merindu
Rembulan
seakan terpaku pada tempatnya
Tertahan
oleh sejuta doa yang menahanya agar tak tertelan fajar
Lirih alam
perlahan berdendang
Kembali
menidurkan sang surya agar tak segera terbagun
Alam seakan
berjalan dengan keindahannya
Menari dan
bernyayi diatas padang kerinduan anak manusia
Inilah malam
yang direstui para dewa
Malam yang
terselimuti sejuta doa kerinduan
Malam dimana
seluruh sukma lepas dari raga
Terbang ia
beriring dan menghilang dibalik awan
Lenyap dan
bermunculan pada sukma sang kekasih yang dirindu
Berpasang-pasang
mereka terdiam dalam baluran caya redup rembulan
Malam dengan
sejuta kasih
Adakah yang
lebih indah dari malam ini
Kamajaya dan
Kamaratih seakan hidup dalam setiap sukma anak manusia
Berdua
mereka tanamkan arti dari kerinduan pada sepasang kekasih
Hingga malam
dekati fajar
Hingga
mentari perlahan membuka mata
Tetes rindu
masih jua tertinggal
Dalam sejuta
tetes embun yang menyapa dedaunan pagi ini
Langganan:
Postingan (Atom)